KITAB ULANGAN:

18:15. Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan.
18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.
18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik;
18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi merekadari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.
18:19 Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.
18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus dibunuh.(al. Douay Rheims Bible & New Century Version).
1
8:21 Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN?
18:22 apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.”

Ayat2 di atas berasal dari
sumber D.

Dalam ayat 19 terdapat frasa “firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku”, maksudnya adalah sebelum membacakan Firman Tuhan yang diturunkan, Nabi itu selalu membaca (artinya): “Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”  

Dalam ayat 20 diterangkan bahwa “nabi yang berbicara demi nama Tuhan yang tidak diperintahkan oleh Tuhan untuk dikatakannya”,NABI ITU HARUS DIBUNUH. Faktanya, meski Yesus berbicara demi nama Tuhan, ia tetap saja “dibunuh” oleh kaumnya sendiri. Ini artinya, bahwa nubuat Ulangan ini bukan ditujukan kepada Yesus, melainkan kepada nabi yang lainnya. Sebaliknya, jika Muhammad adalah nabi palsu, tentu beliau sudah mati lebih awal atau dibunuh kaumnya sendiri. Faktanya, Muhammad mampu mengemban misi kenabian selama 22 tahun lebih dan berhasil mengislamkan seluruh penduduk Jazirah Arab! Bandingkan dengan Yesus yang hanya mampu mengemban misi kenabian selama 3 tahun dan ajarannya ditinggalkan oleh kaumnya sendiri, bangsa Israel!

Adapun mengenai “Nabi yang seperti Musa”, sebagaimana disebutkan dalam ayat 18 di atas, dijelaskan panjang lebar berikut ini:

A. Nabi itu akan berasal “dari antara saudara mereka”.  

Oleh karena
Kitab Suci Taurat diturunkan Allah kepada Nabi Musa, maka dapat dipastikan bahwa ayat 15-17 di atas adalah redaksi dari perombak Taurat. Sedangkan ayat 18-22 dapat dikatakan sebagai terjemahan dari teks asli Taurat.

Dalam ayat 18 terdapat frasa “dari antara saudara mereka”. Kata “mereka” dalam frasa ini menunjuk kepada umat Israel, sehingga frasa “dari antara saudara mereka” dapat diterjemahkan sebagai “dari antara saudara umat Israel”. Pertanyaannya, siapakah “saudara umat Israel” ini? Dalam catatan Alkitab, “saudara umat Israel” yang paling dekat dari aspek genetis adalah orang2 keturunan Ismail dan orang2 keturunan anak2 Abraham dari istri ketiganya, Ketura. Jadi, secara spesifik, frasa “dari antara saudara mereka” dapat diterjemahkan sebagai “dari antara keturunan Ismail” atau “dari antara keturunan anak2 Ketura”. Namun demikian, mengingat tidak ada bukti literer berkaitan dengan orang2 keturunan Ketura yang menjadi Nabi, maka keturunan Ketura dalam pembahasan ini diabaikan.

Lebih jauh, pengarangKitab Ulangan sendiri dalam catatan khususnya menegaskan bahwa Nabi yang seperti Musa itu tidak akan berasal dari orang yang berdarah Israel.Berikut kutipannya:

34:10. Seperti Musa yang dikenal TUHAN dengan berhadapan muka,* tidak ada lagi nabi yang bangkit di antara orang Israel,
34:11. dalam hal segala tanda dan mukjizat, yang dilakukannya atas perintah TUHAN di tanah Mesir terhadap Firaun dan terhadap semua pegawainya dan seluruh negerinya,
34:12. dan dalam hal segala perbuatan kekuasaan dan segala kedahsyatan yang besar yang dilakukan Musa di depan seluruh orang Israel.

Tak terbantah lagi, bahwa nabi itu bukanlah nabi dari bangsa Israel (termasuk Yesus), tetapi nabi itu akan datang dari bangsa lain yang notabene tidak memiliki ikatan darah setetes pun dengan orang2 Israel.

Akan tetapi, agar pembahasan ini terkesan adil, maka frasa “dari tengah-tengahmu” sebagaimana tersebut dalam ayat 15 di atas, tetap disuguhkan dalam pembahasan ini.

“Tuhan” berfirman kepada Abraham:

KEJADIAN 17:5, “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan
Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. 
KEJADIAN 17:6, “Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja.”
KEJADIAN 17:8, “Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kau diami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Ayat2 di atas berasal dari sumber J.

Menurut ayat2 di atas, Allah berjanji kepada Abraham dan keturunannya akan memberikan tanah Kanaan sebagai milik mereka selamanya dan Allah akan menjadi Tuhan mereka. Dan Allah juga telah menetapkan Abraham sebagai Bapak Umat (baca: QS. 2:124).

Tanah Kanaan sekarang dikenal sebagai tanah Palestina. Tentu saja pengertian Palestina di sini mencakup seluruh wilayah Israel dan Palestina sekarang ini. Lalu, siapakah penduduk Palestina? Secara umum penduduk Palestina terbagi atas 2 bangsa yang saling bersengketa yaitu bangsa Yahudi/Israel yang sebagiannya adalah keturunan Ishak anak Abraham, dan bangsa Arab/Palestina yang sebagiannya adalah keturunan Ismail anak Abraham. Namun demikian, meskipun keduanya saling bersengketa, tetapi pada hakekatnya mereka adalah bersaudara karena sama2 keturunan Abraham.

Permasalahannya sekarang adalah, siapakah “Nabi yang seperti Musa”?

B. Apakah Yesus seperti Musa? Perhatikan gambaran berikut ini:

(1) Musa membunuh seorang bangsa Mesir yang dekat dengan Fir’aun yang menentang khutbah Musa. Yang paling penting di sini adalah bahwa Musa menganggap pembunuhan itu pantas untuk menundukkan seseorang yang membuat kericuhan dalam ajaran agamanya. Pada sisi lain, Yesus tidak pernah menundukkan musuh2 agamanya.
Sebaliknya, dia sendiri diutus untuk penyaliban oleh mereka yang menentang misinya.

(2) Para pengikut Musa adalah penyembah berhala ketika dia menjadi seorang nabi/rasul. Tetapi para pengikut Yesus bukan penyembah berhala ketika ia menjadi seorang nabi/rasul.

(3) Musa mengalahkan musuh2nya dan menjadi pemenang pada masanya. Sedangkan Yesus dikalahkan oleh musuh2nya dan disalib.
(4) Musa tidak dikhianati oleh para pengikutnya,
sedangkan salah seorang murid Yesus yang bernama Yudas Iskariot mengkhianatinya dan menjatuhkannya ke dalam kesengsaraan.

(5) Musa dilahirkan dari pertemuan ayah dan ibu, memiliki istri dan anak2. Sedangkan Yesus dilahirkan dari perawan Maria, tanpa ayah, dan dia tidak mempunyai istri dan anak2.

(6) Musa menyelamatkan kaumnya dari tirani Fir’aun dan hijrah dari Mesir ke negeri lain (Madyan) untuk menghindari serangan dari kaum Fir’aun. Sedangkan Yesus tidak menyelamatkan kaumnya dari dominasi Romawi dan tidak pula hijrah ke negeri lain (kecuali keterangan Matius yang tidak lain merupakan distorsi, dan hal ini dibantah oleh Lukas!).

(7) Musa memerintahkan pengikutnya untuk merebut kembali Palestina, sebagai milik mereka. Sedangkan Yesus tidak meminta pengikutnya untuk ikut serta dalam perjuangan (peperangan).

(8) Musa menerima hukum baru dari Tuhan. Hukumnya dikenal sebagai “Leviticus”. Sedangkan Yesus tidak menetapkan hukum baru. Secara tegas, Yesus mengatakan seperti yang tertulis dalam MATIUS 5:17: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.”

(9) Seluruh bangsa dan Bani Israel telah menerima Musa sebagai pemimpin mereka dan Rasul Allah. Sedangkan Yesus ditolak oleh kebanyakan kaumnya. Hanya 12 orang saja yang mau menerimanya. Bahkan dari jumlah yang kecil ini, terdapat seorang muridnya akhirnya mengkhianatinya dan membiarkannya jatuh ke tangan musuh.

(10) Musa hidup lama dan mengalami kematian secara wajar. Sedangkan Yesus hidup sebentar dan “mati” secara tidak wajar di tiang salib, meski kemudian Yesus bangkit dari antara orang mati dan terangkat ke surga (perspektif Kristen). Dalam perspektif Islam, Yesus tidaklah disalib, tetapi dinaikkan Allah roh dan jasadnya ke langit dan akan diturunkan kembali ke muka bumi mendekati hari kiamat untuk menegakkan Islam kembali dan menghancurkan salib. Betapa pun berbedanya kedua perspektif ini, akhir hayat Musa berbeda dengan akhir hayat Yesus.

(11) Setelah kematian Musa, para pengikut utamanya menyebarkan ajarannya ke seluruh Palestina dan Syria. Namun, tidak begitu halnya yang terjadi setelah kematian Yesus. (Penyebaran Kristen dilakukan oleh orang2 Eropa yang nyata2 bukan pengikut utama Yesus).

(12) Musa memerintahkan umatnya untuk melawan musuh2 mereka dan Musa sendiri ikut berjuang (berperang). Sedangkan Yesus tidak pernah meminta umatnya untuk berjuang atau berperang, karena memang Yesus ditolak mentah2 oleh kaumnya. (Hanya 12 orang saja yang mengikut Yesus).

(13) Musa menerima tanda kenabian di Gunung Tursina (Gunung Horeb) dan ia tidak hanya menyeru Bani Israel, tetapi juga menyeru Kaum Fir’aun (Bangsa Qibti). Sedangkan Yesus menerima tanda kenabian ketika menemui Yahya (Yohanes Pembaptis) dan Yesus hanya menyeru Bani Israel saja. Secara tegas, Yesus mengatakan sebagaimana yang tertulis dalam MATIUS 15:24: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.”

(14) Musa lahir, besar, dan mati di luar tanah Palestina. Ia lahir di tanah Mesir dan mati di tanah Tih (Moab). Meskipun demikian, Musa memerintahkan umatnya untuk menundukkan Palestina. Sedangkan Yesus lahir, besar, dan mati di tanah Palestina. Kebalikan dari Musa, Yesus ditolak mentah2 oleh sebagian besar umatnya hingga akhirnya ia mati di tiang salib oleh umatnya sendiri.

(15) Musa menerima Kitab Taurat dari Allah secara bertahap dan terus menerus hingga ia mati. Sedangkan Yesus menerima Kitab Injil dalam sekali turun saja, karena memang kedatangan Yesus di tanah Israel bukanlah untuk menghilangkan hukum Taurat atau kitab para nabi, melainkan untuk menggenapinya saja. (Yaitu ketika Yesus menjumpai Yohanes Pembaptis kemudian datanglah Malaikat Jibril yang diutus oleh Allah untuk memberikan sebuah buku kepada Yesus yang berisi kabar gembira – Injil, usia Yesus ketika itu kira2 30 tahun).

(16) Hingga kini, Musa dikenang sebagai tokoh terbesar sepanjang sejarah Yahudi (Bani Israel). Sebaliknya, Yesus menjadi orang terhina di mata Yahudi (Bani Israel) padahal ia berasal dari dan diutus hanya untuk Bani Israel.

(17) Musa adalah seorang nabi Allah dan menjadi penguasa pada zamannya, sedangkan Yesus adalah Tuhan (perspektif Kristen) dan tidak pernah menjadi penguasa pada zamannya, karena selalu dirongrong oleh umat Israel. Bahkan, “Yesus” pun harus menderita di tang salib oleh umatnya sendiri (boro2 jadi penguasa).

(18) Kematian Musa adalah kematian yang wajar karena sudah tua, sedangkan kematian Yesus adalah untuk menebus dosa2 manusia (perspektif Kristen).

(19) Musa mati dan jasadnya bersemayam di dalam bumi hingga hari kiamat, sedangkan Yesus bangkit dari antara orang mati dan dinaikkan Allah roh dan jasadnya ke langit.

(20) Berdasarkan ULANGAN 18:20 di atas, maka Yesus bukanlah seorang nabi yang dimaksud dalam ULANGAN 18:18 karena Yesus justru “mati dibunuh” oleh kaumnya sendiri karena dianggap nabi dusta dan palsu. (Usia Yesus ketika mati kira2 33 tahun, ini berarti hanya 3 tahun saja Yesus menjadi nabi/rasul).

C. Apakah Muhammad seperti Musa? Perhatikan gambaran berikut ini:

(1)
Seperti Musa, Muhammad berjuang menundukkan kekuatan2 yang menghambat dakwahnya.

(2) Sebelum mereka lahir, kaum Musa dan Muhammad menyembah berhala2.

(3) Seperti halnya Musa, Muhammad juga mengalahkan musuh2nya dan menjadi pemenang atas mereka.

(4) Sebagaimana Musa, tidak ada seorang pun pengikut Muhammad yang berhasil mengkhianatinya.

(5) Seperti Musa, Muhammad dilahirkan karena pertemuan ayah dan ibu, dan mempunyai istri2 dan anak2.

(6) Musa menyelamatkan umatnya dari kekejaman Fir’aun dan bangsa Mesir serta melakukan hijrah dari Mesir ke negeri lain (Madyan) untuk menghindari serangan kaum Fir’aun. Seperti Musa, Muhammad juga membebaskan umatnya dari penganiayaan kaum Quraisy dan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah untuk menghindari serangan kaum Quraisy.

(7) Atas perintah Musa, para pengikutnya mengirimkan kekuatan untuk merebut Palestina dan Syria. Seperti Musa, Muhammad juga memberikan instruksi kepada para sahabatnya untuk menundukkan Palestina dan Syria.

(8) Baik Musa maupun Muhammad menerima berita baru dari Allah untuk penetapan hukum2. (Dengan diturunkannya Al-Qur’an, maka hukum2 sebelumnya menjadi tidak berlaku lagi).

(9) Baik Musa maupun Muhammad diterima sebagai pemimpin oleh umat mereka secara turun-temurun.

(10) Baik Musa maupun Muhammad mengalami kehidupan keluarga dan hidup lama serta mengakhiri kehidupan dunia dengan kematian yang wajar.

(11) Setelah kematian Musa, para pengikut utamanya menyebarkan ajarannya ke seluruh Palestina dan Syria. Demikian juga dengan para pengikut utama Muhammad setelah ia wafat. Pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, salah seorang sahabat dekat Muhammad (Khulafaur Rasyidin ke-2), kekuatan dikirimkan untuk merebut Palestina dan Syria sekaligus menyebarkan ajarannya.

(12) Seperti halnya Musa, Muhammad juga memerintahkan umatnya untuk berjuang melawan musuh2 mereka dan Muhammad sendiri ikut berjuang (berperang).

(13) Jika Musa menerima tanda kenabian di Gunung Tursina (Gunung Horeb), maka Muhammad menerima tanda kenabian di Gunung Hira. Seperti Musa, Muhammad juga tidak hanya menyeru bangsa Arab, tetapi juga menyeru bangsa2 lain di seluruh penjuru dunia. Secara tegas, Allah berfirman di dalam AL-QUR’AN 21:107: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi alam semesta.”

(14) Seperti halnya Musa, Muhammad juga lahir, besar, dan mati di luar tanah Palestina. Ia lahir di tanah Mekah dan mati di tanah Madinah. Sebagaimana Musa, Muhammad juga memerintahkan para sahabatnya untuk menundukkan Palestina, dan ketika itu mayoritas (92%) orang2 Palestina memeluk agama Islam terbukti dengan dibangunnya Masjidil Aqsha tempat dimana Muhammad melakukan “mi’raj”. (Setelah ditandatanganinya “Deklarasi Balfour” di Inggris pada tanggal 2 Nopember 1917 yang melahirkan gerakan “Zionisme”, maka orang2 Yahudi dari seluruh penjuru dunia berduyun2 mendatangi bumi Palestina dan mengusir penduduknya).

(15) Sebagaimana Musa, Muhammad juga menerima Kitab Al-Qur’an dari Allah secara bertahap dan terus menerus selama 22 tahun 2 bulan dan 22 hari hingga akhir hayatnya. (Muhammad menerima wahyu pertama pada usia 40 tahun).

(16) Jika Musa dikenang sebagai tokoh terbesar oleh umat Yahudi (Bani Israel), maka Muhammad dikenang sebagai tokoh terbesar sepanjang sejarah oleh Bangsa Arab khususnya dan Umat Islam pada umumnya.

(17) Seperti Musa, Muhammad juga seorang nabi Allah dan menjadi penguasa pada zamannya.

(18) Baik Musa maupun Muhammad, mati secara wajar karena sudah tua (berusia lanjut).

(19) Seperti Musa, Muhammad juga mati dan jasadnya bersemayam di dalam bumi hingga hari kiamat.

(20) Sebagaimana telah dijelaskan, Muhammad hidup lama dan mati secara wajar sehingga dengan sendirinya ia bukanlah nabi sebagaimana yang dimaksud Firman Allah dalam ULANGAN 18:20 di atas. (Muhammad mati pada usia 63 tahun).

KESIMPULAN:

Dari gambaran2 di atas, tidaklah terlalu berlebihan kalau Muhammad dipandang lebih sesuai/mirip dengan Musa dibandingkan dengan Yesus. Muhammad memiliki persamaan dengan Musa dalam berbagai hal. Sebaliknya, Yesus justru bertolak belakang dengan Musa dalam berbagai hal.

Keterangan:

* Jika Musa berhadapan langsung dengan Allah di gunung Thursina, maka Muhammad berhadapan langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha (langit ke-7), yaitu ketika Muhammad dipanggil menghadap Allah untuk menerima perintah sholat 5 waktu, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai peristiwa Isra’ Mi’raj. [Satu2nya wahyu (perintah Allah) yang diterima langsung oleh Muhammad, yang mengisyaratkan kepada umat jin dan manusia bahwa sholat 5 waktu adalah ibadah yang paling utama di sisi Allah].

Wassalaam.